Alan Purba Kusuma

G24100047

Laskar 26

Tak ada hujan bila tak ada laut

Kisah ini dimulai ketika lahirlah dua kakak beradik ke dunia. Pada awalnya mereka hidup dalam berbagai kemegahan dan kesenangan. Namun warna itu tak berlangsung lama. Kesusahan dan kekelaratan mendatangi kehidupan mereka tanpa salam dan ketuk pintu terlebih dahulu. Tak berdaya tubuh mereka oleh permainan duniawi ini. Walau berteriak sekuat apapun, sekeras apapun tak akan ada yang berubah. Walau menangis selama seabad juga tak akan merubah keadaan. Runput yang kering akan tetap saja kering, bukit yang gundul tidak akan dengan tiba-tiba bermunculan pepohonan pinus yang hijau. Hingga Si kakak menyadari bahwa kedua orang tua mereka sudah tak dapat diandalkan lagi, ia berpikir “kalau bukan aku siapa lagi yang akan melakukannya,…..”

“Bagai sebuah lesung tanpa dayung, bidadari mendarat di bumi tanpa kaki, hanya melayang, melayang dengan impi, fikirlah yang ada….”

“Mengarungi semua kenangan tanpa lamunan, tak ada guna, sakit iya…..”

“Tusukan jarum ini tak terasa lagi, perihnya tak lebih dari itu….”

“Bergerak, bergerak, tak perlu meronta, itu saja….”

“Walau bara itu telah berjelaga, tiada peduli itu arang atau mutiara…”

Biarpun senja dalam hati, tetaplah siang untuk raga ini….”Si kakak dalam hati berpuisi.

Dan tibalah suatu hari Si kakak terpaksa meninggalkan orang tua dan adik tercintanya untuk berjuang mengalahkan kemelaratan yang mereka alami. Hanya bermodalkan harap bias meluluhkan keteguhan takdir yang menyiksanya Si kakak berjalan dengan tegar.

Di berbagai tempat telah Ia datangi, tapi nihil, tak ada hasil. Keluarganya di rumah semakin tercekik oleh pahitnya kemiskinan. Ia sadar akan itu, namun ia sendiri sudah tak ada pegangan lagi di sakunya. Hanya tangis sedih yang bisa ia kerjakan. “Sangat tak berguna”, pikirnya dalam hati. Dalam tangisnya ia ingat akan senyum lucu adiknya. “Seharusnya adikku bisa merasakan manisnya tebu, seharusnya adikku bisa merasakan lembutnya kapas, segarnya susu, sejuknya angin, hangatnya malam,….. aaaarrrrrghh!”. Segera dia berdiri dan berlari, hingga ia menemukan satu pekerjaan yang dirasa akan sangat kasar terhadapnya. Namun tekad tetaplah tekad. Niat telah terucap. Tak ada yang bisa menghalangi. Lalu dicapailah pekerjaan itu. Koin demi koin ia kirimkan utuk keluarganya di rumah.tak lupa ia menyisihkan koin-koinnya untuk modal adiknya kelak.

Beberapa juta detik telah berlalu, koin-koin itu telah menjadi setumpuk. Dijadikan modal sudah koin-koin itu oleh Si adik. Waktu demi waktu rumput-rumput kering itu jadi hijau kembali. Pinus-pinus hijau mulai tumbuh menghiasi bukit yang telah lama gundul. Seakan dunia ini telah dibalik, hitam jadi putih, panas jadi dingin, dan yang tidak mungkin jadi mungkin. Kekayaan telah didapatkan. Takdir berhasil diluluhkan.

Disuatu pagi yang telah menjadi berwarna dibeberapa hari terakhir ini para tetangga berbondong-bondong memasuki rumah megah yang baru dibangun disitu. Ternyata itu adalah rumah baru Si adik. Disana ia disanjung-sanjung. Banyak pujian terlontar padanya. Lalu seorang tetangga bertanya pada sang ibu dari Si adik. “Apa yang membuat anda bangga dengan anak anda ini?” “Karena dia bisa menjadikan garam menjadi gula, air teh menjadi susu, karat menjadi mengkilap.” Jawab sang ibu. Tetangga itu bertanya lagi, “lalu bagaimana dengan kakaknya? Apa yang sudah ia lakukan selama ini? Ia hanya pekerja kotor, tak mungkin dia bisa sesukses ini…” “Anda salah besar, tak akan ada api bila tak ada pemantiknya, tak akan ada susu bila tak ada sapinya, dan tak akan ada sapinya jika tak ada penciptanya….” Si asik menegur dengan cepat. Tetangga itu kebingungan. Lalu ia menanyakan maksud dari perkataan Si adik. Si adik tersenyum dan berkata, “kakakku yang memberi ribuan butir beras untuk perut kami yang tak pernah kenyang.”

Alan Purba Kusuma

G24100047

Laskar 26

Suka Bertanya, Lancar di Jalan

Di satu detik yang amat berharga, berdirilah seorang mahasiswa dengan seorang ilmuwan besar dari Amerika. Lebih dari belasan kamera tertuju padanya.begitu banyak sorakan, begitu banyak senyum kagum mengarah padanya. Sebagian diam tertegun, sebagian lagi berdiri memberikan tepuk tangan dengan hebohnya. Dia adalah mahasiswa asal indonesia. Yang berdiridengan ilmuwan besar itu adalah termasuk orang yang beruntung. Beruntungnya dia bukan karena bisa berdiri dan berjabat tangan dengan ilmuwan ternama dari negeribarat itu. Dia bisa dibilang beruntung karena memiliki sifat seorang ilmuwan, yaitu sifat serba ingin tahu dan keoeduliannya yang amat besar terhadat lingkungan. Sangatlah jarang orang dijaman sekarang ini bisa memiliki sifat itu. Sifat itulah yang membawa mahasiswa beruntung ini dalam kemilau kesuksesan.

Tidaklah mudah dia mendapatkan semua keberhasilan itu. Tapi itu juga tidak benar kalau dikatakan sulit untuk meraihnya. Karena dengan niat dan keinginan untuk maju yang besar pastilah tidak terlalu berat untuk meraihnya. Dan itulah yang terjadi padanya. Sejak kecil dia memang dikenal sebagai anak yang suka bertanya. Tapi tidak hanya berhenti sampai bertanya saja, dia juga selalu berusaha mencari jawaban dari kebingungannya itu sendiri. Sering rentetan pujian dia dapatkan. Tapi tak jarang juga dengan sindiran-sindiran pahit yang bersarang di telinganya karena sifatnya yang serba ingin tahu itu. Hingga suatu hari ada seorang guru yang tidak bisa menjawab rentetan pertanyaannya. Itu tentu saja membuat sang guru sedikit tidak menyukai dia. Kejadian ini sama sekali tidak merubah sifat dia. Berbagai penemuan ilmu pengetahuan telah dia peroleh tanpa melirik buku sekalipun. Hingga macam-macam penghargaan berbondong-bondong mendatanginya. Mulai dari beasiswa, ratusan piagam penghargaan, hingga berbagai tawaran sekolah gratis ke luar negeri.

Sungguh Allah Maha Adil. Selalu ada hasil yang baik dibalik usaha keras dan doa yang tekun.